Catatan 5 Tahun Pernikahan

IMG_20180830_104932.jpg

Aku ingin mengawali catatan ini dengan peristiwa dimana kita ada pada situasi yang amat sulit, di malam ketika anak kita Syakira tengah dirawat di RS, kemudian si Kakak juga dalam kondisi yang tidak sehat. Serta dirimu yang sedang hamil tua. Begitu tau anak kita harus di opname, aku segera naik pesawat dengan schedule tercepat menggunakan tiket sisa konsesi yang rencananya aku gunakan untuk menyambut kelahiran bayi kita.

Hingga di satu malam, kamu mengalami kontraksi hebat, dan fikra yang tidak bisa tidur tenang dengan selang infus yang menempel ditubuhnya, serta fattana yang juga tidak nyaman dengan tidurnya karena memang kondisinya yang drop namun tetap memaksakan ikut ayahnya untuk menginap di Rumah Sakit. Disaat itulah aku benar-benar berharap Tuhan tidak menambah ujiannya dengan lahirnya anak ketiga kita. Bukan tak senang atas kelahiran buah hati, namun aku merasa belum siap, dan belum mempersiapkan semuanya (secara teknis). Waktunya sangat tidak tepat. Ditengah kondisi yang masih menggendong Syakira dan menyaksikan Bundanya kesakitan akibat kontraksi, saya berpikir mungkin saat itulah momen yang terpasrah, terpenuh harap, dan mungkin akan jadi titik tersulit apabila Istriku benar-benar melahirkan saat itu juga. Aku jadi teringat kata-kata yang pernah kita bicarakan bahwa,” level ujian kita setelah menikah akan meningkat berpuluh- puluh kali lebih berat

Alhamdulillah, Allah masih berikan kemudahan. Allah tunda kelahiran anak ketiga kita. Kondisimu berangsur pulih. Kondisi Fikra dan Fatta berangsur pulih. Hingga semua kembali normal. Cheers!! 😀

Datanglah saatnya anak ketiga kita lahir ke dunia. Hal yang sama terjadi saat engkau hamil anak kedua kita. Sekedar untuk periksa, namun ternyata sudah waktunya. Bedanya, kali ini aku masih di Balikapapan. Akupun segera meluncur ke Jakarta  dengan penerbangan tercepat. Berharap ketika landing di Jakarta, aku masih bisa mendampingi proses kelahiran bayi ketiga kita.

Alhamdulillah sesaat setelah landing di Jakarta dan setelah mengaktifkan HP, aku tidak mendapati kabar kelahiran. Artinya si debay memang pengen lahir didampingi ayahnya. 29 Nov 2018, sekitar jam 2 siang waktu bekasi, Lahirlah Fukhaira Syamsa Syaiz, Sebuah kebanggaan dan anugerah buat kita. Di 5 tahun pertama rumah tangga kita, Tuhan telah menitipkan 3 anak kepada kita. Betapa Tuhan mempercayakan amanah-amanah berat ini di pundak lemah kita.

Hari-hari pun semakin ramai. semakin berwarna. semakin rempong. semakin rusuh. semakin penuh tawa. dan tentu saja semakin penuh tangis. Bisa dibayangkan 3 anak perempuan dengan bundanya yang sering baper mengisi hari-hari gw yang fana ini. wkwk..

Di 5 tahun pernikahan kita, ada kebiasaan yang hampir tidak bisa kita lakukan lagi. “Kapan terakhir kali kita tidur sepanjang malam berdua saja sambil berpelukan?” Dengan banyaknya anak kita, kebiasaan yang dulu kita lakukan tiap malam sudah hampir tidak pernah kita lakukan lagi. Bukan karena berkurangnya cinta, tapi akibat dari bertambahnya buah cinta kita. Maka, momen itu menjadi sangat dirindukan, dan amat berkesan jika kita bisa melakukannya, meskipun sebentar saja.

Formasi tidur kita hari-hari ini ialah 3-2, Fa dan Fi bersama ayahnya. Sedangkan si Fu bersama bundanya di kamar yang lain. Entah apa jadinya jika Fu sudah bisa berjalan, atau bahkan turun naik tempat tidur. Mungkin Formasi bisa menjadi 4-1, 5-0, atau bahkan tetap 3-2; 3 anak, 2 ayahbunda di kamar yang lain (hehe, ini mah ngarep).

Di 5 tahun pernikahan kita, berbicara bebas tanpa batas dari hati kehati semakin sulit dilakukan. Bukan karena hasrat kita yang berkurang, justru karena keingintahuan anak-anak kita yang semakin bertambah. Sehingga seringkali permbicaraan kita di sela oleh Anak-anak kita, terutama si Fa dan Fi. Aktifnya Syahira berbicara, dan misterious nya Syakira yang lumayan menyita enerkhi, mengharuskan kita mencari dan mencuri waktu yang tepat untuk bisa ngobrol berdua. Sama hal nya dengan pergi berdua, almost never do it anymore, except when we went to Jekardah (anak-anak bisa di titip ke orang rumah). Itu pun harus mencuri waktu tidur si Syamsa dan perlu melakukan negosiasi tingkat dewa ke anak-anak kita.

Di 5 tahun pernikahan kita, Aku masih cukup kuat menyediakan telinga untuk mendengarkan semua celoteh Syahira, Syakira, Bundanya (Syamsa belum termasuk, mungkin tahun depan :D). Insya Allah aku termasuk yang dapat dikategorikan sebagai Good Listener (meskipun kamu suka protes kalo aku sering gagal fokus terutama akibat HP), and Good to Manage Tellers (bagaimana memanage anak istri yang berebut mau cerita ke Lelaki mereka)

Di 5 tahun ini, perlahan anak-anak kita (terutama Syahira) sudah melihat figur orang tuanya sebagai model bagi mereka. Syahira sedang memasuki Golden Age nya. Aku selalu berharap agar dapat memberikan kesan yang mendalam dari tiap perlakuan kita ke mereka. Mulai dari mengajaknya “mengaji” ke mesjid setiap minggu, berdialog dengannya, menghargai apa yang ia katakan, membuatnya merasa penting agar kepercayaan dirinya meningkat dan bisa menjadi seorang kakak yang kuat. Di sisi lain, kitapun harus memperbaiki diri agar anak kita tidak mencontoh buruknya kita. Dan untuk hal ini aku minta maaf karena belum dapat melakukannya dengan baik.

Di 5 tahun ini, aku punya banyak hal yang harus ku tambahkan. Rasa syukur ku harus ditambah. Kepekaan ku harus ditambah. perhatian-ku harus ditambah. kesabaran-ku harus ditambah. Inisiatif ku sebagai suami dan ayah harus ditambah. Uang belanja mu pun harus ditambah #plakkk

Di 5 tahun ini aku makin menyadari bahwa istriku yang cantik ini selalu meminta 100% perhatian kepada suaminya. Dan begitu pula dengan ketiga anak kita nantinya. Dan memang begitu seharusnya. Dan memang seharusnya aku selalu memberikan perhatian penuh kepada semua wanita-wanitaku ini.  Hopefully i always do it as expected. Please pray for me 😀

At the end of all, Semoga Allah selalu menjaga cinta kita. menjaga buah cinta kita dan mejadikan mereka penyejuk hati kita.

wz Love, -UrZ

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s