TUKANG TAHU (seri FATHERMAN bag. 10)

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Betulkah malu bertanya sesat di jalan? Sepertinya sekarang sudah tidak lagi relevan. Kecuali kalau begini : malu bertanya saat tak ada jaringan, akan sesat di jalan. Ini lebih masuk akal. Sebab selagi masih terkoneksi ke internet, meskipun malu bertanya, kita masih bisa ketik di gugel. Dan gugel akan memberikan berbagai jawaban yang kita butuhkan. Mulai dari daftar orang yang paling cakep di dunia (yang pastinya akan membuat banyak orang ilfil karena namanya tak pernah muncul), sampai istilah istilah asing yang kita gak ngerti seperti archie, cache, twerking, bromance ataupun istilah anak anak gaul masa kini : yalsi, ucul,  spupet, pundung, cukstaw. Penasaran? Ya tinggal gugling aja.

Semua orang bersyukur dan bergembira dengan hadirnya gugel. Satu per satu pertanyaan yang menggantung dan menjadi misteri akhirnya terjawab. Kecuali pertanyaan “kapan kamu nikah?” Ini soal yang berat. Hanya Tuhan yang mampu menjawabnya. Ya, gugel memang tidak sempurna. Sebab, kata orang, sempurna itu milik andra and the backbone. Padahal sejatinya, sempurna itu milik Allah SWT. Namun, meski tidak sempurna dan tentu tidak akan pernah sempurna, gugel menjadi primadona anak di zaman sekarang. Tugas-tugas sekolah dirasa lebih ringan. Tak perlu datang jauh-jauh ke perpustakaan hanya untuk sebuah makalah. Atau harus mendaki gunung mount everest untuk mengetahui berapa ketinggiannya. Cukup satu kata, gugling ajah.

Gugel menjadi bukti dari janji Allah  bahwa yang berilmu (alias banyak tahu) akan ditinggikan derajatnya. Dimuliakan. Dianggap penting dan eksis. Tak lagi dipandang sebelah mata kecuali kalau mata yang sebelah lagi kelilipan. Ini bisa menjadi jurus baru bagi sosok pahlawan yang bernama Fatherman. Ayah harus banyak tahu tentang segala hal. Everything. Hal ini mampu membuat ayah makin bernilai di hadapan anak.

Terlebih sejak anak mulai bisa bicara, rasa ingin tahunya spontan muncul. Pertanyaan “kenapa?” akan selalu diulang-ulang. Dan ayah harus punya segudang jawaban untuk bisa memuaskan jawaban anak. Inilah saatnya sang fatherman memakai kostum baru. Yakni topi guru. Dimana ayah menjadi sumber ilmu pertama bagi anak. Jika anak bingung, tinggal tanya ayah aja. Gak butuh gugel. Dari mulai pertanyaan yang remeh, “kok kucing dinamakan kucing? Kenapa gak dinamakan kevin aja biar keren?”. Atau pertanyaan yang mulai agak filosofis, “kenapa Allah ciptakan rasa kangen yang membuat batin tersiksa?” Oalah, ini mah bukan pertanyaan anak. Ini titipan pertanyaan dari istri bang thoyyib yang suaminya udah 3 kali lebaran gak pulang-pulang.

Intinya, ayah jangan sampai jadi ayah yang planga plongo di saat anak bertanya, saking kupernya. Apalagi marah-marah sambil berucap “kamu tuh aneh-aneh aja. Udah dari sononya begitu!” Dan itu masih mending. Ada juga ayah yang jika tak mampu menjawab pertanyaan anak malah menceramahi anak “Kamu tuh kayak yahudi aja. Banyak nanya. Tau gak? Yahudi itu dilaknat Allah karena banyak nanya sama Nabi Musa”. Serem banget kan? Alhasil, anak pun cuma bisa diam. Batinnya berontak seraya berkata “Kalau gak mau dicap yahudi ya jangan banyak tanya. Ikuti aja”. Maka, hilanglah sikap kritisnya saat tumbuh remaja. Ikut-ikutan pergaulan yang rusak karena tak berani bertanya. Diajak sholat mau, diajak maksiat ayo. Istilah mereka :  STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan). Alias amar ma’ruf nyambi munkar. Mereka korban dari pengasuhan yang mematikan daya kritis anak sedari kecil.

Ketahuilah, pertanda bahwa anak kita tumbuh normal yakni akalnya yang terus berkembang. Dan salah satu indikasinya adalah munculnya banyak pertanyaan. Tugas ayah, sang Fatherman, mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Menjadi guru bagi anak. Ingat! Jawaban yang memuaskan adalah bukan sekedar jawab. Namun jawaban yang benar. Jangan asbun. Jawaban asbun mungkin bisa membuat anak berhenti bertanya, namun ketika anak tumbuh makin dewasa dan memperoleh jawaban lain yang ternyata lebih tepat, lunturlah kepercayaan kepada ayahnya. Akhirnya, setiap omongan ayah dianggap omong kosong. Padahal bukan hanya omongan ayah yang kosong, kadang isi dompet ayah pun juga kosong. Ini curhat hehe. Ayah menjadi berkurang nilainya di mata anak. Persis kayak rupiah di hadapan dollar.

Apalagi jika pertanyaan anak mengenai masalah seksual. Ada sekat yang tebal disini. Sekat tabu dan malu. Ditambah ayah yang tak punya ilmu. Kadang ayah asal jawab. Yang penting anak diam. Misalnya “yah, kondom itu apa sih?” Ayah langsung panik. Mau jawab sungkan. Kalau gak jawab, khawatir anak malah tanya ke orang yang salah. Maka meluncurlah dari lisan ayah jawaban yang asal. “Kondom itu obat sakit kepala!”. Anak mengangguk-angguk sok ngerti. Pas ayah tak ada dan ibunda sedang sakit, ia inisiatif mendatangi warung.
“Bu, jual kondom gak?”. Si ibu penjaga warung hampir pingsan.
“Hah? Buat apa?”
“Buat mamaku. Dia sakit kepala!”
Duarrr!!! Siapa yang salah coba? Anak hanya bertindak berdasarkan arahan dari ortunya. Sehingga informasi yang salah malah bisa mencelakakan. Karena ayah yang malas belajar. Tak mau menambah wawasan. Tergilas oleh perkembangan zaman.

Dari sekarang, tingkatkan kompetensi ayah dalam menjawab pertanyaan. Update terus info-info yang berkembang di sekitar. Begitu anak bertanya, ayah bisa menjawab dengan informasi yang tepat. Pun jika pertanyaan anak seperti serangan jantung yang mendadak, maka tarik nafas sejenak. Jangan langsung jawab. Usahakan konfirmasi dulu. Sebab belum tentu pertanyaan anak sesuai dengan yang kita prasangkakan. Terutama jika pertanyaan itu terkait dengan sesuatu yang saru.
“Ayah, asalku darimana?”
Jangan sembarangan langsung jawab untuk mengesankan kita pintar dan intelek.
“Jadi gini nak. Ayah punya cairan yang disebut sperma. Dia itu punya kekasih yang namanya ovum. Ovum itu ada di perut ibu. Nah, agar sperma ini tidak merasa galau setiap malam, tugas ayah adalah mempertemukan sperma dengan ovum yang ada dalam perut ibu. Begitu mereka ketemu, terjadilah ikatan dan terbentuklah calon bayi yang diberi nama embrio. Sampai akhirnya embrio makin besar dan berumur sembilan bulan. Kemudian setelah sembilan bulan ia pun minta keluar dari perut ibu. Dan lahirlah kamu. Paham kan?”
Anak geleng-geleng bengong seraya bicara
“Kok temenku bilangnya beda. Waktu dia ditanya asalnya darimana. Dia bilang asalnya dari Solo”.

JEGEERRR! Tuh, jangan asal jawab. Cari tahu dulu maksud sang anak. Kalau begini, ayah sendiri yang malu kan?
Ada kalanya juga ayah tak punya jawaban. Untuk itu biasakan meminta waktu ke anak untuk mencari tahu jawabannya. Janjikan namun jangan lama-lama. Dan segera jawab jika sudah dapat. Jangan ditunda. Jika tidak, anak akan mencari tahu ke orang lain. Pindahlah rasa kagumnya. Makin tersisihlah peran ayah. Seperti nokia yang keok menyerah dengan android. Atau friendster yang sempat jaya namun ditinggalkan seiring hadirnya facebook. Kalah eksis.

Pertarungan ayah, sang Fatherman, di era sekarang adalah pertarungan informasi. Yang menang adalah yang paling banyak tahu. Ayah yang dikagumi dan dibanggakan adalah yang punya segudang informasi yang dibutuhkan sang anak. Sampai-sampai anak kalau ditanya, “Ayahmu kerjanya apa? Dia jawab, “Tukang tahu”. Maksudnya, ayah selalu tahu apa yang ditanyakan anak. Semoga itu kita (bersambung)
[21/10 1:41 PM] syah reza: JURUS PENGIKAT HATI (seri FATHERMAN bag. 2)
by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Misi pertama seorang fatherman adalah mengikat hati anak. Ini beda dengan obsesi jomblo yang berupaya sekuat tenaga menarik perhatian sang pujaan. Kadang rambut sengaja dicat merah dan dibikin belah tengah agar dicap lelaki yang eksentrik dan adil. Begitu kena guyuran hujan malah jadi mirip miniatur laut merah yang terbelah tongkat Nabi Musa. Atau bagi yang wanitanya, sering banget posting resep masakan di akun sosmed biar dianggap istriable. Begitu disuruh masak air malah nanya “bumbunya apa aja ya?”. Helllowww!

Fatherman tidak seperti itu. Ia tidak suka cari perhatian. Sebab kalau mau cari perhatian cukup ke bandara atau mall aja. Disana banyak terdengar “PERHATIAN…PERHATIAN!”. Fatherman fokus kepada tugas untuk memikat hati anak. Ini langkah awal agar bisa mengendalikan anak untuk tetap dalam arahan selagi tak bersama dirinya. Anak tak mudah dibujuk dan dipengaruhi pihak luar. Nasehat dan petuah Fatherman menjadi rujukan yang dituruti. Kayak Mr. Charlie yang menjadi pemandu bagi tiga angelsnya dalam menjalankan tugas.

Ingat, hati adalah raja meski tanpa mahkota atau lewat pilkada. Hati yang telah terpikat akan mudah mengajak akal yang liar untuk tunduk. Saat anak beranjak remaja, dimana mereka sudah mulai ‘cerdas’ berargumen, tidak akan berdebat sampai nyolot jika dinasehati ayah sang fatherman. Hatinya memerintahkan akal untuk pasrah dan menerima. Bahkan bisa jadi ia siap mendebat pihak luar yang tak sependapat dengan nilai pengajaran dari ayahnya. Contohnya saat anak ditawari rokok sama temennya. Ia berani berkata “TIDAAAK!” dengan tegas. Begitu temannya kesel dan keluar kalimat, “Ah, dasar luh bencong. Gak berani ngerokok”. Ia dengan santai menjawab, “Ah siapa bilang? Justru kata bapak gue, bencong banyak yang ngerokok”. Duaarrr!

Disini kata kuncinya : “Kata Bapak Gue”, dan segala kalimat yang semisal dengannya. Kalimat ini menunjukkan betapa tak ada yang dipercaya oleh anak kecuali bapaknya. Fatherman punya misi menjadikan dirinya sebagai yang utama dijadikan narsum oleh anaknya. Persis seperti dr. Boyke yang kerap dijadikan rujukan utama bagi pasangan yang punya keluhan di ranjang. Semua bermula dari terpikatnya hati. Anak yang terpikat hatinya akan menjadikan ayah sebagai sosok super hero dalam hidupnya. This is fatherman. The real father.

Kendala bagi para ayah yang hendak bermetamorfosa menjadi fatherman adalah waktu yang terbatas. Khususnya di masyarakat perkotaan. Mereka lebih lama waktu menghirup asap knalpot di jalan dibandingkan waktu untuk bersama anak. Saat pulang pun kadang mendapati anak sudah tidur terlelap. Jangankan ingin jadi super hero, lah ketemuan aja gak sempat. Anak anggap sosok fatherman gak eksis. Malah dianggap cuma dongeng. Hanya ada dalam khayalan mereka.

Padahal urusan waktu yang terbatas bisa disiasati asal tahu caranya. Belajarlah dari sosok Rasulullah, mentor utama kita. Beliau mampu menjadikan pertemuan singkat namun berefek dahsyat bagi anak-anak. Hal ini dirasakan oleh sahabat cilik di masa tersebut saat berinteraksi dengan beliau. Memori bersama Rasulullah di saat kecil terkenang-kenang saat dewasa. Usamah bin zaid sebagai saksinya. Padahal beliau pernah dimarahi Rasul akibat salah membunuh saat perang. Musuh yang terdesak kemudian berucap syahadat malah ia bunuh. Dan ini menimbulkan kemurkaan Rasul. Begitu dimarahi bukannya perlawanan atau bantahan yang ia lakukan. Ia pun tunduk meskipun memiliki argumen yang cukup untuk membela tindakannya. Sebab Usamah kadung cinta kepada baginda nabi. Hatinya terpikat.

Salah satu sebabnya ada suatu peristiwa yang ia kenang di masa kecilnya. Saat ia dipangku Rasulullah bersama Hasan bin Ali. Di saat itu Rasulullah memeluknya seraya berdoa “Ya Allah, sayangilah Hasan dan Usamah. Karena sesungguhnya aku sangat sayang dengan kedua anak ini”. Duh meleleh. Hati anak mana yang tidak tersentuh. Didoakan dengan untaian cinta oleh manusia termulia. Inilah dasar pertama hati yang terpikat. Merasa dicintai. Merasa diistimewakan. Coba bayangkan. Di antara anak-anak yang lain, hanya Usamah dan Hasan yang dipangku dan didoakan Rasul. Betapa momen sesaat tersebut memberi kesan mendalam di hati Usamah.

Begitulah yang semestinya dilakukan sosok Fatherman. Mampu membuat anak merasa spesial. Hal ini berpengaruh kepada kejiwaan anak. Setidaknya memberi persepsi bahwa meski ayah waktunya terbatas namun ayah sangat besar cintanya. Dan ini menjadi alasan utama anak untuk mau patuh kepadanya.

Apa yang dilakukan Rasul memberi inspirasi bagi sosok Fatherman yang terkendala dengan waktu bahwa bukan sekedar berapa banyak waktu yang kita berikan kepada anak, namun seberapa besar kesan yang berhasil ditimbulkan. Jadikanlah setiap pertemuan bersama sosok Fatherman menjadi sesuatu yang ‘memorable” alias layak dikenang. Bukan kenangan pahit tentunya. Sebab itu tugasnya mantan. Tugas fatherman memberikan kenangan manis yang tak terlupakan.

Agar anak terkesan dan merasa diistimewakan maka tiga jurus yang harus dikuasai Fatherman :

Pertama, sering-sering memeluk atau menyentuh anak secara fisik. Anak merasa nyaman dalam sentuhan. Sentuhan ini memberi efek yang mengikat batin antara anak dan ayah selaku fatherman selama tidak terburu-buru melakukannya. Sentuhan yang terburu-buru dan sesaat malah dianggap main adu benteng oleh anak.  Maka santailah saat memeluk dan menyentuh anak, apalagi kalau disentuhnya pakai I-Phone 6 plus tiket dufan gratis seumur hidup. Makin berkesan.

Kedua, ungkapkan cinta secara privat. Boleh sambil bisik-bisik di telinga anak atau suara yang lembut namun terdengar jelas di telinga anak. Ditambah kalimat “ini rahasia lho!” makin membuat anak merasa istimewa

Ketiga, mendoakan anak secara terbuka. Hal ini amat disukai. Sebab doa adalah bait cinta yang terhubung ke angkasa. Namun doa yang diucap tentu doa yang bermakna. Jangan sampai malah baca doa mau makan atau doa untuk jenazah. Wah itu mah parah. Ucapkan doa yang singkat dan sederhana. Kalau doanya kebanyakan dipikir anak lagi tahlilan. Saat berdoa, usahakan pakai bahasa yang dimengerti anak. Dengan doa inilah anak tahu bahwa ayahnya adalah sosok fatherman yang peduli. Dibuktikan lewat doa yang selalu terucap.

Ketiga jurus ini jika dilakukan sesering mungkin saat berinteraksi dengan anak memberi pengaruh menguatnya ikatan hati kepada ayah. Efeknya jangka panjang hingga anak beranjak dewasa. Selama dilakukan dengan sungguh-sungguh anak tahu ayahnya adalah super hero yang selama ini ia idamkan. The fatherman. Dan kehadiran fatherman ibarat film kartun spongebob atau dora yang dinantikan kehadirannya setiap saat. Anak takkan pernah bosan meski sering ditayangkan berulang-ulang.

Berlatihlah dengan jurus pamungkas ini. Anak akan terpikat hatinya. Dijamin ayah makin gak betah kerja, selalu ingin pulang ke rumah memuaskan kerinduan anak. Ini efek sampingnya. Tapi tenang saja, ini efek sesaat. Begitu melihat saldo rekening yang menipis dan tagihan KPR yang harus ditunaikan, ayah akan kembali semangat ke kantor seraya memberi pesan kepada anak : Jangan kemana-mana. Fatherman akan kembali setelah tagihan-tagihan berikut ini. Bersabar ya nak! (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s