Tentang Keputusan dan Konsekuensi

Keputusan dan konsekuensi. 2hal yang berjalan beriringan.

Dahulu kala saya meminta kepada Dzat yang Maha, untuk menghidupkan diri ini. meminta?…. ya, (mungkin) saya pernah berucap padaNya “Rabb, Engkau Maha Besar, kenapa tidak Kau ciptakan aku sebagai satu tanda kebesaranMu?”

Lahirlah saya ke dunia ini. Dunia ini memberikan saya pilihan-pilihan yang memaksa saya untuk membuat keputusan. kanan atau kiri? a,b,c,atau d? 1 atau 2? satu per satu saya membuat keputusan itu, tidak lupa ada konsekuensi sbagai pengiringnya. Di antara banyak nya pilihan yang terpampang, benar atau salah menjadi pilihan yang paling sulit untuk ditentukan. aah, memang sudah jelas setiap orang pasti memilih untuk benar, tapi tidak semudah itu. kedua pilihan itu seringkali menjadi sangat samar, sangat mirip sehingga diri ini hampir saja slalu meleset dalam memilih opsi benar.

Kenapa benar dan salah menjadi samar? jelas saja bukan karena fakta dan kebohongan yang sulit dibedakan. bukan juga karena daging melekat pada tulangnya.

Benar dan salah menjadi samar karena pelakunya tidak tau dan tidak mau tau tentang keduanya. padahal ia hanya harus bertanya pada nurani. nurani itu hampir tahu semua kebenaran, ia tersimpan d ruang kecil pada hati. sulit, tapi sebenarnya masih bisa terjangkau. jauh, namun sebenanya masih bisa tersentuh.

Sering kali pelakunya -sang pembuat keputusan- ini takut dengan konsekuensi yang timbul dari keputusan yang ia ambil. #keputusan slalu beriringan dengan konsekuensi..hingga bisa jadi ia tidak memutuskan dan membiarkan keduanya (benar dan salah) mengambang, menggantung.

Sepertinya ia lupa, ketika ia tidak memutuskan, ia telah membuat keputusan untuk tidak memberi keputusan. Dan ingat, ada konsekuensi yang timbul beriringan dengan keputusannya. konsekuensinya adalah perasaan takut untuk mengakui…

Seandainya mencintai itu bukan sebuah pilihan benar atau salah, maka saya tengah terjebak oleh konsekuensi yang timbul karena saya memilih untuk tidak memutuskan. ya, saya memilih untuk mencintai, konsekuensinya? ya, perasaan takut untuk mengakui bahwa saya memang mencintai…

Wahai diri, kembalilah ke nurani mu. bertanyalah padanya, ia masih sangat mungkin dijangkau, ia masih sangat mungkin kau sentuh. sadar atau tidak, Tuhan menitipkan sedikit firmanNya disana. khawatirkanlah dirimu yang mungkin sudah terlalu jauh. terimalah, perlahan saja, jika engkau tidak sanggup.

#awal pagi, sambil meneguk coklat yang sudah tidak hangat lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s