untuk para aktivis islam yang beramanah ganda…


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}


seorang teman sempat menceritakan pengalamannya beraktivitas bersama, atau bisa dibilang satu amanah/organisasi dengan orang yang memiliki image aktivis Islam.
di awal, ia sangat mengharapkan mereka-mereka ini -yang “terlihat” soleh- bisa membantu sang kawan untuk menggerakkan organisasi yang ia pimpin. ia beranggapan bahwa seorang aktivis islam yang memiliki jam terbang di segudang kepanitiaan di berbagai tempat bisa membantunya untuk membangun organisasi berdasarkan pengalaman yang mereka miliki. ia pun berharap agar aktivis islam ini bisa totalitas dalam menjalankan amanahnya. ternyata hal itu benar, tapi, hanya di awal…
yup, seorang teman tadi secara perlahan mulai merasa bahwa ternyata aktivis islam ini kurang total dalam menjalankan tugasnya, hal ini bisa di lihat dari intensitas aktivis islam yang mulai melemah dalam hal komunikasi, intensitas kehadiran dalam rapat yang makin jarang, dan setengah2 nya tugas yang di kerjakan.. alasannya -dan yang terlihat- adalah, amanahnya bertambah.
aktivis islam ini sibuk mengerjakan ini itu, mengikuti ini itu yang membuat mereka membagi pikirannya..” ga masalah klo dy punya amanah lain, tapi, please lah di prioritaskan amanah yang lebih dulu ia emban” ucap sang kawan.
“makanya, gw dah ga terlalu ngarepin lagi orang-orang kaya dia, dia atau dia (menyebut nama aktivis islam),, ga bakalan optimal” ujarnya.
ya, tentu tidak bisa serta merta kita generalisasi kasus ini untuk semua aktivis islam, karena masih banyak tentu aktivis islam yang bisa menjalankan amanah dengan sangat baik, tapi mungkin saya belum terpikirkan untuk menuliskannya…
ya, sejatinya, para aktivis yang menyandang nama agama -dalam hal ini islam- seharusnya memiliki kesadaran diri bahwasanya, kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari yang namanya berprilaku baik dan profesional dalam amanah yang dibebankan padanya. saya juga menyadari bahwa memang aktivis islam sangat sering memegang amanah yang tidak satu.
kenapa? karena sedikitnya sumber daya manusia yang berani dalam memegang amanah tersebut.
Tapi itulah aktivis islam, ia memang “terpaksa” memegang amanah lebih, walaupun sebenarnya mereka sendiri tidak ingin menerima hal tersebut. Yang saya tau, bukan karna ingin memenuhi CV mereka melakukan hal itu, bukan karena sekedar pengalaman mereka menerima amanah ganda. jauh lebih besar dari itu semua, mereka berani mengemban amanah ganda karena memang tidak ada lagi yang berani, tidak ada lagi yang bisa, tidak ada lagi yang mau untuk memegang sebuah amanah. Al hasil, distribusi amanah tidak merata, akhirnya mereka lah yang -pasang badan- menerima amanah tersebut.
Dampaknya? kondisi fisik lebih banyak tersita, konsentrasi lebih mudah terpecah, managemen waktu lebih sulit di atur, lebih sulit untuk totalitas dalam amanah, peluang kekecewaan dari orang lain lebih besar di dapat. mau bagaimana lagi, mereka hanya manusia yang memiliki keterbatasan
Hey kawan, seandainya engkau tau betapa beratnya amanah yang kami emban sebagai aktivis islam…. hey kawan, seandainya engkau menyadari, tidak sedikitpun terpikirkan oleh kami untuk mengecewakan mu. kami paham sejatinya kami harus menjadi orang yang profesional dalam bekerja, kami paham bahwa kami harus bisa melayani umat semaksimal mungkin, kami sadar bahwa segala yang kami lakukan, itu semua hanya untuk mendapatkan kepercayaan dari publik. tapi, inilah kami. seorang manusia yang sama sperti anda dan yang lainnya. kami tidak meminta apologi apologi dari kalian, kami tidak meminta pemakluman pemakluman dari kalian. namun, jika memang kalian memahami kami, maka bantulah kami. berikan tangan kalian untuk setidaknya menepuk bahu kami. meyakinkan pada kami bahwa kami orang yang kuat. yakin kan pada kami bahwa memang slalu ada malaikat yang menaungi kami, selalu ada Tuhan yang memudahkan urusan pribadi kami yang sedikit terbengkalai karena kami terlalu asyik dengan urusan orang banyak.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s