Kaderisasi Kepemimpinan Nasional

*pandangan sekilas…
“Leader is Action, not position” (Donald H. Mc Gannon;13). Kutipan tersebut
memang tak diragukan lagi kebenarannya. Sejatinya, kepemimpinan memang merupakan
sebuah aksi, bukan hanya sekedar posisi. Tanpa memerlukan jabatan, seseorang yang
memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat akan dengan sendirinya menunjukkan bahwa ia
memang seorang pemimpin.
 
Kepemimpinan adalah konsekuensi logis dari timbulnya suatu kehidupan di
masyarakat. Mengapa? Karena dimana ada suatu kehidupan, maka akan ada masalah yang
harus diselesaikan. Setiap masalah yang harus diselesaikan pasti membutuhkan keputusankeputusan.
Pengambil keputusan itulah yang biasa kita kenal sebagai pemimpin.
 
Sederhananya, tugas pokok seorang pemimpin adalah sebagai pengambil keputusan
atau eksekutor. Tapi tidak semudah yang dibayangkan untuk menjadi seorang eksekutor,
dibutuhkan keberanian dan kematangan berpikir agar keputusan yang diambil berimplikasi
baik terhadap masalah dan elemen yang menyertainya. Itulah sebabnya, walaupun semua
orang berpotensi untuk menjadi pemimpin, namun tidak semua orang bisa mengambil posisi
sebagai pemimpin. Mereka yang merasa tidak memiliki keberanian dan kematangan berpikir
akan berpikir ulang untuk mengambil posisi tersebut atau akan tertutupi oleh orang yang
memiliki sifat tersebut.
 
Bicara lebih jauh lagi tentang kepemimpinan, ia merupakan suatu sistem tentang
subjek yaitu pemimpin dan bagaimana memperlakukan objek yaitu yang dipimpin. Pemimpin
sering kali dikaitkan dengan bagaimana seseorang dapat berpengaruh terhadap orang yang ada
disekitarnya. Ia akan terfokus kepada cara mempengaruhi orang lain dan kepatuhan orang lain
melalui cara yang ia terapkan.
 
Mari kita lihat kondisi kepemimpinan di negeri kita. Kita semua mengetahui bahwa
Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Sangat sedikit orang-orang yang berani tampil di
negeri ini untuk menunjukkan bahwa dirinya memang siap memimpin. Ambil saja contoh
Pilpres tahun 2009, seluruh calon Presiden yang maju ke pentas pemilihan adalah wajah lama.
Mereka semua telah memiliki dosa sejarah terhadap negeri ini. Maka sudah dapat ditebak,
yang menang pun adalah calon yang paling sedikit memiliki dosa sejarah.
Pemimpin-pemimpin yang terlihat saat ini pun tidak cukup memiliki jiwa
kepemimpinan yang memadai untuk mengubah negeri. Jelaslah terlihat bahwa tidak akan ada
perubahan di Indonesia selama orang yang memimpin hanya yang itu-itu saja. Kaderisasi
kepemimpinan, itu menjadi hal yang sangat tabu Indonesia.

Negara kita butuh pemimpin baru, cukup sudah orang lama mengisi pentas politik di
Indonesia. Sudah saatnya indonesia mengalami regenerasi kepemimpinan. Hal yang perlu
dijawab oleh rakyat indonesia adalah pemimpin baru dengan kriteria seperti apa yang
dibutuhkan negeri ini?
 

Kepemimpinan memang tak lepas dari sifat-sifat mulia. Sangat banyak sifat mulia
yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, bahkan kita bisa mengatakan pemimpin itu lebih
suci dari malaikat karena banyaknya sifat yang harus ia miliki. Sejatinya, seorang yang
menerima posisi sebagai pemimpin harus siap menginternalisasikan sifat-sifat mulia kedalam
dirinya. Mengapa? Karena itulah yang sering menjadi tuntutan orang-orang yang ada di
sekelilingnya. Tak mudah memang mengingat kita hanyalah manusia biasa yang sangat
mungkin melakukan kesalahan.
 
Keteladanan
 
Pemimpin adalah cermin bagi rakyatnya. Ketika rakyat bercermin dan melihat wajah
yang berbeda dengan yang diharapkan, maka rakyat akan kecewa atau bahkan marah dengan
cermin tersebut. Inilah yang maksud dengan keteladanan. Sifat inilah yang paling efektif
untuk mempengaruhi dan mengubah orang lain karena tidak hanya sekedar bicara.
Keteladanan bisa diturunkan menjadi ketangguhan akhlak dan kematangan bersikap.
Ketangguhan akhlak adalah bagaimana ia mampu menjadi orang yang selalu tepat waktu dan
taat terhadap peraturan ketika orang lain menganggap remeh hal tersebut, bagaimana ia bisa
menjadi pribadi yang hormat terhadap yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda serta
memiliki etika yang baik ditengah dekadensi moral yang semakin menjadi-jadi. Bagaimana ia
bisa mengatakan suatu kesalahan kepada orang lain secara jujur namun tidak sampai membuat
orang yang salah menjadi kecil hati.
 
Kematangan bersikap adalah bagaimana seorang pemimpin dengan segala kerendahan
hati mau mengakui kesalahan dihadapan siapapun tanpa harus merasa malu. Bagaimana ia
senantiasa bisa tersenyum atau bahkan tetap bisa membuat orang yang disekitarnya tersenyum
ditengah berbagai tekanan dan tuntutan yang datang kepadanya. Bagaimana ia selalu bisa
memposisikan diri kapan ia harus menjadi pembicara yang baik dan kapan ia harus menjadi
pendengar yang baik.

Kasus Open House yang menewaskan satu orang pasca lebaran kemarin merupakan
satu bentuk pelajaran bagi Presiden tentang kemampuan untuk bersikap lebih matang dalam
menentukan keputusan. Apabila SBY meminta maaf kepada masyarakat, maka itu akan jauh
lebih baik dan menunjukkan sikap keteladanan sebagai seorang pemimpin.
Anies Baswedan mengatakan, “Kewibawaan justru dibangun di hadapan pendukung
dan penentang.” Ketangguhan akhlak dan kematangan bersikap mampu menjadikan
pemimpin menjadi sosok yang berwibawa baik dimata pengikut maupun penentang.

Kemampuan Berpikir
 
Tak bisa dimungkiri, seorang pemimpin tidak hanya cukup dengan akhlak yang baik
saja, tapi ia juga harus memiliki kemampuan berpikir yang cerdas. Sifat-sifat yang baik hanya
sebatas menjadikan seseorang pemimpin sebagai sosok yang berwibawa, namun kemampuan
berpikirlah yang menjadikan seorang pemimpin dapat dikatakan sukses. Ketika dihadapkan
pada suatu masalah, seorang pemimpin secara tidak langsung akan memperlihatkan
kemampuan berpikirnya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
 
Berpikir secara analitis akan membantu dalam memilah-milah permasalahan menjadi
bagian yang lebih kecil dan mengetahui penyebab utama suatu masalah, berpikir secara
sintesis membantu dalam hal menggabungkan berbagai informasi dan pemahaman guna
menentukan solusi bagi masalah yang dihadapi. Kemampuan berpikir tersebut diperlukan agar
setiap ujian kepemimpinan yang dihadapi dapat diselesaikan secara sistematis dengan metode
yang jelas, sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Permasalahan bangsa kita sudah terlalu
kompleks, mulai dari masalah sosial, ekonomi, pertahanan-keamanan, politik, dan lain
sebagainya. Ini semua hanya dapat diselesaikan apabila pemimpin-pemimpin kita terbiasa
dengan budaya berpikir secara analitis dan sintesis.
 
Saat ini, langkah yang tepat untuk mengoptimalkan kaderisasi kepemimpinan nasional
adalah dengan menurunkan parliamentary tresshold (ambang batas parlemen) untuk
pencalonan presiden. Dengan begitu, peluang untuk memunculkan pemimpin-pemimpin baru
jadi lebih besar. Akan banyak gagasan baru, akan banyak ide-ide besar dari para calon
pemimpin untuk negeri ini. Akan ada pendidikan politik baru yang jauh lebih partisipatif dan
berkualitas.

Peran kita sebagai pemuda terlebih lagi seorang mahasiswa dalam mengatasi krisis
kepemimpinan nasional ialah dengan meyiapkan diri kita untuk memimpin negara. Persiapan
tersebut memang harus dilakukan dari sekarang dan kampus merupakan medan yang tepat
utnuk melakukan berbagai aktivitas kepemimpinan mengingat kampus layaknya miniatur
sebuah negara.
 

Berani untuk mengungkapkan pendapat, mengikuti berbagai pelatihan kepemimpinan
yang diselenggarakan, berani memimpin lembaga yang ada di kampus dan bersaing secara
sehat dalam berbagai kompetisi kepemimpinan merupakan bentuk persiapan kita menuju
kepemimpinan nasional di masa depan. Apabila mahasiswa bisa mengoptimalkan
pembelajaran tentang kepemimpinan di kampus, kemudian mempertahankan idealisme
setelah keluar dari kampus, maka kedepannya negeri ini akan dipimpin oleh orang-orang yang
memang layak untuk dianggap sebagai pemimpin.
 
Krisis kepemimpinan Nasional di Indonesia merupakan masalah yang perlu sgera
diatasi demi perubahan bangsa ini. Kepemimpinan yang mengedepankan keteladanan dan
tingkat kemampuan berpikir yang tinggi merupakan kriteria pokok yang harus dimiliki
pemimpin-pemimpin baru agar bisa menjawab segala bentuk permasalahan bangsa. Sudah
saatnya negara memberikan pendidikan kepada calon-calon pemimpin bangsa untuk
mengungkapkan gagasan mereka, ide-ide besar mereka mengenai masa depan Indonesia.
Mahasiswa pun harus segera mulai menyiapkan diri untuk memimpin negeri agar siklus
kaderisasi kepemimpinan nasional nantinya bisa berjalan secara seimbang dan berkualitas.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s